13.2.12

NOTHING IS IMPOSSIBLE


Para pembaca sekalian, seperti yang kita ketahui bahwa dunia ini selalu berputar dan selalu berubah – ubah, kadang malam dan kadang siang. Sama seperti kehidupan kita sebagai manusia, yang selalu berubah – ubah dari yang buruk menjadi yang lebih baik dari yang berada di bawah berusaha berubah menjadi berada di atas.


Namun tentu saja itu tidaklah semudah saat membalikan telapak tangan kita, untuk menjadi yang lebih baik tentu saja membutuhkan sebuah pengorbanan, jika tidak ada pengorbanan maka tidak akan pernah menjadi lebih baik.


Kadang pengorbanan itu sangat terasa kejam, sampai – sampai rasanya kita ingin menyerah bahkan dapat mebuat kita berpikir “kenapa hidup itu tidak adil”??. Namun itu adalah pemikiran yang salah, karena hidup ini telah di ciptakan oleh Tuhan seadil – adli-Nya sebab Tuhan itu Maha Adil. Seberapa besar tingkat keberhasilan yang kita dapat itu sesuai dengan seberapa besar tingkat pengorbanan yang kita lakukan.

Bahkan orang – orang yang memiliki kekurangan dari pada diri kita dan kita pikir orang itu tidak akan penah menjadi apa – apa atau tidak akan pernah berhasil. Malah dapat menjadi seorang yang lebih yang sukses sampai – sampai melebihi dari diri kita. Tentunya orang itu pasti melakukan usaha dan pengorbanan yang lebih besar dari yang pernah kita lakukan sehingga dia bisa menjadi seperti itu.


So … jika kita ingin menjadi seorang yang sukses, menjadi orang yang berhasil dan menjadi orang yang lebih baik. Maka lakukanlah sesuatunya dengan sungguh – sungguh, dan mau berkorban. Tentunya harus diselingi dengan DOA, dan ingatlah “Bahwa Segala Sesuatu Itu Tidak Ada Yang Mustahil”.


Berikut ada sedikit cuplikan Video yang dapat kita ambil pelajaran positif di dalamnya :














( Riski Nugroho Putra )

Sumber Gambar : krconnect.blogspot.com
Sumber Video : http://www.youtube.com/

3.2.12

JENDRAL YANG TAK PERNAH SAKIT


“Kemewahan adalah permulaan keruntuhan, kesenangan melupakan tujuan, Irihati merusak persatuan, keangkaramurkaan menghilangkan kejujuran” ( Jenderal Soedirman)
Kata-kata itu adalah kata yang diucapkan Jenderal Soedirman, beliau memang seorang tokoh yang sangat dikagumi khususnya di kalangan militer walaupun sebenarnya beliau bukan lulusan akademi militer, beliau selalu siap berjuang untuk bangsanya walaupun harus ditandu, walau harus sakit keras meski menderita sakit tuberkulosis paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya dalam perang pembelaan kemerdekaan RI. Pada tahun 1950 ia wafat karena penyakit tuberkulosis tersebut dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta . Pernah disuatu perang Soekarno melarang ia ikut bertempur namun Jenderal Soedirman dengan lantang berkata “Soedirman memang sakit,tetapi jenderal besar tidak pernah sakit”.
Sifat beliau ini sudah jarang kita temukan di zaman sekarang, seharusnya sifat ini diteladani oleh semua kalangan masyarakat tanpa terkecuali, ia selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya, bahkan kesehatannya sendiri. Pribadinya tersebut ditulis dalam sebuah buku oleh Tjokropranolo, pengawal pribadinya semasa gerilya, sebagai seorang yang selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan Negara. Sudah jarang pribadi seperti itu di zaman sekarang kita seakan melupakan perjuangan beliau untuk republik ini kita sudah teralalu terlena dengan kemajuan zaman sehingga lupa akan perjuangan pendahulu kita terdahulu jika Soedirman sangat mendahulukan kepentingan masyarakat dibanding kepentingan sendiri namun sekarang terbalik lebih banyak orang yang mendahulukan kepentikan pribadi, golongan, maupun partainya dibanding kepentingan masyarakat luas.
Apa yang akan dikatakan Jenderal Soedirman jika ia masih hidup sekarang dan melihat keadaan bangsa kita yang seperti ini?
( Ahmad Faisal Ramadhan )

Sumber gambar : awalsholeh.blogspot.com

KETIKA HUTAN PINDAH KE KOTA

Ketika Hutan Pindah ke Kota,

Maka hukum rimba pun akan diberlakukan, Dimana yang terkuat dialah yang akan menang untuk berkuasa dan mengatur segalanya.


Ketika Hutan Pindah ke Kota,

Maka tidak ada lagi rasa kasihan dan kepedulian terhadap sesama. Kejahatan, kerusuhan, dan kekerasan sudah menjadi aktivitas yang biasa.


Ketika Hutan Pindah ke Kota,

Maka tidak ada lagi rasa toleransi antarsesama dan umat beragama. Bahkan rasa kebencian dan sensitivitas terhadap sesama semakin kuat.


Ketika Hutan Pindah ke Kota,

Maka kesenjangan sosial semakin antara Kaya dan Miskin semakin jauh bertambah. Sebab yang berkuasa semakin buta oleh harta dan masyarakatnya semakin merana.


Ketika Hutan Pindah ke Kota,

Maka segala cara akan dilakukan. Demi untuk mengisi kebutuhan perut yang selalu diminta.




Hmmm,,.

Apakah ini yang diingikan??



( Riski Nugroho Putra)


Sumber gambar : wildanakko.blogspot.com

2.2.12

JARAK YANG SEMAKIN LAMA SEMAKIN BESAR

“ Bek rumah lu jauh banget” kata ku kepada Bekti

“Udah sabar gua bawa lu muter” jawab Bekti

“beehh akhirnya nyampe juga bek” balas ku

“ lu liat sal tadi ada rumah yang gede tapi ga lama lu liat pemukiman kumuh ?”Tanya Bekti

“iya bek” jawab ku

“ Kesenjangan social udah bener-bener keliatan sal”



Kesenjangan social mungkin hal ini tidak asing bagi kita yang hidup di perkotaan, terlihat sangat jelas dimana satu golongan hidup sangat mewah,fasilitas memadai namun di satu sisi ada kelompok masyarakat yang hidup sangat terbatas bahkan bisa dibilang kurang.

Tembok besar yang menghalangi antara si kaya dengan si miskin terlihat jelas mereka seakan tertutup dengan si miskin mereka hanya bergaul dengan yang sederajat dengannya, mall- mall besar berdiri, perumahan elite berdiri, namun tidak jarang dibalik itu semua terdapat pemukiman kumuh berdiri warga miskin hanya bisa melihat itu semua dengan pandangan sayu dan berharap ada rezeki disitu. Ini adalah tugas kita semua untuk memperpendek jarak kesenjangan itu terlebih lagi mereka yang dulu berkampanye untuk mengentaskan kemiskinan, untuk mensejahterakan mereka namun kenyataannya sekali lagi mereka hanya jadi korban kampanye.

Belum lagi sifat masyarakat kita yang sudah konsumtif memperparah keadaan mereka semakin lupa dengan keadaan saudaranya yang miskin bisa dilihat bagaimana satu kelompok mengantri membeli barang mahal tapi di satu sisi harus mengantri hanya untuk mendapatkan sembako. Sudah saatnya pemerintah lebih peduli terhadap nasib mereka dan sudah saatnya kita peka terhadap kesenjangan social yang terjadi di masyarakat kita.


( Ahmad Faisal Ramadhan )


Sumber gambar : noenkcahyana.blogspot.com

CAHAYA DALAM KEGELAPAN

Seperti di pagi – pagi biasanya, desa itu selalu di penuhkan oleh aktivitas – aktivitas masyarakatnya, untuk memenuhi kebetuhan keluarga mereka.

Tapi pagi itu ada yang berbeda, karena tampak di dekat sungai seseorang yang sedang memetik buah kelapa. Memang orang memetik buah itu adalah hal yang biasa, tapi yang menjadikannya istimewa adalah orang yang memetik kelapa itu. Karena saat diperhatikan dengan seksama ternyata orang itu tidak sesempurna dengan diri kita, tepatnya dia adalah seorang tunanetra. Yah… walaupun sulit untuk dibayang kan, tapi itu lah kenyataannya.

Kita panggil saja nama orang itu Pak Adi, dia memang adalah seorang tunanetra yang sudah dia dapatkan sejak dia di lahirkan. Pak Adi ini sudah berkeluarga dan sudah di karunia seorang anak yang normal usianya kira – kira 5 tahun.

Kembali kecerit, setiap harinya Pak Adi harus pergi mencari nafkah untuk keluarganya, yah… walaupun dalam keterbatasan Pak Adi melakukan pekerjaanya layaknya seperti orang bisa. Memetik kelapa adalah salah satu dari beberapa pekerjaan yang dia lakukan. Wah … padahal untuk jalan menuju tujuannya saja harus susah payah, apalagi di tambah untuk mencari dan memanjat pohon kelapa. Tapi dia selalu berhasil melakukannya dengan mudah seperti tidak ada halangan baginya.

Mungkin karena dia yakin bahwa Tuhan selalu ada disisi setiap hamba –hambaNya yang berjuang untuk menghidupi keluarganya. Sehingga seolah – olah ada cahaya yang menuntun langkahnya tiba ditempatnya mencari nafkah.

Ada sebuah angan yang selalu membuatnya bersemangat dalam setiap langkahnya. Yaitu, dia ingin suatu saat nanti dia dapat menyekolahkan anaknya hingga selesai, agar anaknya tidak seperti dia dan dapat merubah kehidupan keluarganya menjadi lebih baik.

AMIN….!!!


( Riski Nugroho Putra )


Sumber gambar :  fiksi.kompasiana.com